Industri wellness global sedang berada di puncak kejayaannya dan Indonesia punya peluang emas di sana.

Bayangkan nilai ekonomi industri wellness dunia kini telah menyentuh angka USD 7 triliun. Bukan angka yang main-main. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sendiri mengungkapkan fakta ini dalam Indonesia Wellness Festival 2025, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa tren konsumen global tengah bergeser, dari produk sintetis ke produk alami dan berbasis herbal.

Indonesia, dengan kekayaan biodiversitas yang luar biasa, sejatinya duduk di atas tambang emas. Pertanyaannya adalah siapa yang siap menggalinya?

Jalan Terjal Industri Herbal Nasional

Menjadi pelaku industri herbal Indonesia bukan perkara mudah. Di balik tren yang terus menanjak, ada rintangan nyata yang harus dihadapi setiap harinya, perizinan dan legalitas yang panjang berliku, persaingan pasar yang semakin sengit, tantangan edukasi konsumen, hingga regulasi ekspor yang berbeda-beda di setiap negara tujuan.

Realita ini dirasakan langsung oleh Sanga Sanga, brand herbal asal Bali yang kini tengah merayakan 2nd Anniversary bersama para mitra dan distributor dari seluruh penjuru Indonesia. Dengan tema 'Berjaya Bersama Sanga Sanga', perayaan ini bukan sekadar seremonial ulang tahun saja, ini adalah perayaan atas perjuangan panjang yang akhirnya berbuah nyata.

Perayaan 2nd Anniversary Sanga Sanga by PT. Kutus Kutus Herbal (Foto: Istimewa)

Lahir dari Satu Dekade Racikan Kepercayaan

Sanga Sanga bukan brand yang tiba-tiba muncul dari nol. Brand ini lahir dari transformasi panjang racikan herbal karya Bambang Pranoto, seorang tokoh yang namanya sudah tidak asing di dunia herbal Indonesia selama lebih dari satu dekade, dikenal luas sebagai Founder PT Kutus Kutus Herbal.

Namun perjalanan membangun identitas brand baru tidaklah instan. Sanga Sanga harus melewati berbagai fase penyesuaian: pembaruan legalitas, pengurusan izin BPOM dan sertifikasi Halal, penguatan jaringan distribusi, hingga edukasi ulang pasar terhadap identitas mereka yang baru.

Riva Effrianti, Founder & CEO Sanga Sanga, berbicara jujur soal ini:

"Banyak tantangan yang harus dihadapi pelaku usaha herbal saat ini. Tidak hanya soal pasar, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas, memenuhi regulasi, membangun distribusi, serta terus melakukan edukasi kepada masyarakat. Kami percaya proses itu harus dijalani secara bertahap dan konsisten," ujar Riva, Jumat (15/5/2026).

Konsistensi. Itulah kata kunci yang terus dipegang teguh.

Praktisi herbal dan wellness, Founder & CEO Sanga Sanga, Riva Effrianti dan Founder PT Kutus Kutus Herbal, Bambang Pranoto. (Foto: Istimewa)

Dua Tahun, Serentetan Pencapaian yang Tidak Main-Main

Dan hasilnya? Berbicara sendiri.

Dalam dua tahun sejak berdiri, Sanga Sanga telah mencatatkan pencapaian yang bahkan melampaui ekspektasi banyak pihak:

Menembus Pasar Eropa — Produk Sanga Sanga telah memperoleh izin CPNP (Cosmetic Products Notification Portal), yakni izin edar resmi di kawasan Uni Eropa. Artinya, produk herbal Bali ini telah memenuhi standar regulasi kosmetik salah satu pasar paling ketat di dunia.

Hadir di Forum WIPO Geneva — Sanga Sanga tampil sebagai delegasi Indonesia dalam WIPO General Assembly 2025 di Jenewa, Swiss. Sebuah panggung bergengsi yang memperkuat kesadaran pentingnya perlindungan hak kekayaan intelektual bagi inovasi anak bangsa — sekaligus memperkenalkan herbal Indonesia ke hadapan komunitas global.

Rekor MURI Dunia 2024 — Pencapaian yang menegaskan bahwa inovasi Sanga Sanga bukan sekadar klaim.

Inovator Produk Herbal Terbaik Bali 2025 — Penghargaan bergengsi dari forum yang diselenggarakan Detikcom, mengakui kontribusi nyata brand ini bagi ekosistem herbal nasional.

Superbrands Indonesia 2026 — Kategori produk herbal. Nama yang kini berdiri sejajar dengan brand-brand terpercaya di Indonesia.

 

Produk Baru: Sanga Sanga Gatalin

Memasuki babak ketiga perjalanannya, Sanga Sanga tak berhenti berinovasi. Dalam momentum perayaan dua tahun di Bali, mereka resmi memperkenalkan produk terbaru: Sanga Sanga Gatalin — formulasi khusus yang dirancang untuk membantu mengatasi keluhan gatal-gatal sekaligus menjaga kesehatan kulit secara alami.

Langkah ini sekaligus mencerminkan komitmen Sanga Sanga untuk terus memperluas manfaat produk herbal bagi masyarakat Indonesia.

Herbal Lokal Siap Bersaing di Panggung Global

Perjalanan Sanga Sanga bukan sekadar kisah satu brand. Ini adalah cerminan dari potensi besar industri herbal Indonesia secara keseluruhan.

Kementerian Perdagangan mencatat, program business matching UMKM Indonesia pada semester pertama 2025 berhasil membukukan potensi transaksi ekspor hingga Rp1,41 triliun, dengan 609 UMKM yang berhasil menembus pasar ekspor hingga Juni 2025.

Bambang Pranoto sendiri melihat momentum ini dengan penuh optimisme:

"Indonesia memiliki kekayaan bahan alami dan budaya herbal yang sangat besar. Tantangannya sekarang adalah bagaimana produk lokal bisa terus berkembang, dipercaya, dan mampu bersaing secara sehat di pasar yang semakin luas," ujarnya.

Berjaya Bersama, Bukan Sendiri

Di usia yang baru menginjak dua tahun, Sanga Sanga telah membuktikan satu hal penting: sebuah brand yang kuat tidak dibangun dari penjualan semata, tetapi dari perjuangan, konsistensi, inovasi, dan kepercayaan yang dijaga setiap hari.

Dengan semangat 'Berjaya Bersama Sanga Sanga', brand herbal asal Bali ini melangkah optimistis — membawa manfaat produk alami Indonesia, tidak hanya untuk konsumen dalam negeri, tetapi juga untuk pasar dunia yang semakin terbuka lebar.