VOKS RADIO BANDA ACEH - Siapa sangka di balik tenda seadanya yang berdiri di Gampong Cekmbon, Aceh Timur, tersembunyi kisah menarik seorang pria bernama Sofyan. Pria berusia 49 tahun ini bersama keluarganya rela tidur beralaskan tanah demi mendapatkan perhatian dari pemerintah. Kisahnya sempat viral dan mengundang simpati banyak orang. Namun, siapa sangka di balik penampilannya yang sederhana, tersimpan rahasia mengejutkan.

Ternyata, Sofyan bukanlah orang miskin seperti yang ia akui. Pria ini memiliki lahan seluas 18 hektare di kawasan Krueng Baoung! Bayangkan, 18 hektare! Itu sama dengan luas lapangan sepak bola dikalikan ratusan kali. Lahan seluas itu tentu saja bernilai fantastis, apalagi jika lokasinya strategis.

"10 hektare masuk wilayah barel gajah dan 8 kawasan bebas," sebagaimana dikutip oleh AJNN. Wah, keren sekali ya! Lahan miliknya bahkan masuk dalam kawasan yang dilindungi.

Sofyan mengklaim dirinya warga Bireuen dan baru tinggal di Aceh Timur karena diajak teman untuk bertani. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Ia memiliki KTP yang baru dibuat pada Agustus 2024 atas nama warga Gampong Cekmbon.

Aksi pura-pura miskin yang dilakukan Sofyan ini tentu saja mengejutkan banyak pihak, terutama warga Desa Cekmbon. Sekretaris Desa, Samsul Bahri, merasa tindakan Sofyan sangat tidak wajar dan merusak citra masyarakat serta pemerintah desa.

Kami keberatan cara mendapatkan perhatian dengan menjatuhkan pemerintahan,” ucapnya.



Samsul mengetahui Sofyan sebagai warga Gampong Cekmbon sejak pemberitaan dirinya viral. Bahkan ia mempunyai kartu tanda penduduk yang dibuat pada 20 Agustus 2024.

“Saat tinggal lagi di rumah kosong dan menetap di tenda, tidak ada pemberitahuan apapun kepada pihak desa,” ujarnya.

Dari sudut pandang psikologis, tindakan Sofyan mengindikasikan adanya kebutuhan yang mendalam akan pengakuan dan perhatian. Mungkin saja ia merasa rendah diri atau tidak puas dengan pencapaiannya sehingga ia mencari cara untuk menarik perhatian orang lain. Tindakannya yang ekstrem ini bisa menjadi bentuk protes atau tanggapan terhadap tekanan sosial yang ia rasakan.